Category Archives: Kebangsaan

Komitmen GP Ansor: NKRI, Pancasila Harga Mati

nkri harga mati, komitmen pemuda indoneisa, sumpah gp ansor, sumpah pemuda indonesia Komitmen GP Ansor tentang NKRI dan pancasila adalah harga mati merupakan hasil pemikiran, kontempalasi dan ijtihad bersama GP Ansor. Hal ini dipertegas dalam Pidato Ketua Umum GP Ansor H Nusron Wahid pada Puncak Harlah ke-78 GP Ansor  Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila adalah harga mati, serta tidak ada pertentangan antara Islam, kebangsaan, dan humanisme. “Antara Islam, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika seharusnya berjalan seiring dan seirama untuk mewujudkan NKRI,” kata Nusron Wahid di sela acara puncak peringatan Hari Lahir Ke-78 GP Ansor di Stadion Manahan Solo, Jateng, Senin (16/7) malam.

Harlah GP Ansor Ke 78 Tekad Perangi Kemiskinan

Harlah GP Ansor Ke 78, dijadikan sebagai momentum untuk menyatukan tekad alam memerangi kemiskinan. Gerakan pemuda ansor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wawasan nasionalisme sehingga wacana tentang kemiskinan layang terus dikampanyekan. Ketua Umum GP Ansor menyampaikan sambutan pada pembukaan Expo IFIS di Solo, 14 JUli 2012 Solo (gp-ansor.org)-Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengukuhkan komitmennya untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Tekad tersebut tercermin dalam tema perayaan Hari Lahir (Harlah) ke-78 GP Ansor, Memperkokoh Kebhinekaan, Mengentaskan Kemiskinan. Puncak perayaan Harlah ke-78 akan digelar di Stadion Manahan Solo, Senin (16/7), dalam sebuah acara Apel Besar yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mohammad Fatkhul Maskur,

Membentengi Ekses Negatif Globalisasi; Tradisi NU

wacana tradisi NU, ekse globalisasi bagi tradisi, cegah efek negatif globalisasi dengan tradisi Membentengi Ekses Negatif Globalisasi bukanlah masalah mudah, hal ini terkait identitas bangsa, keragaman budaya, kepentingan politik, kepentingan ekonomi dan masih banyak lainnya.  Tradisi diyakini dapat menjadi benteng kokoh untuk melindungi pemeluknya dari kekuasaan hegemonik. Sekuat apapun, kekuasaan tidak sanggup menghegemoni pemeluk teguh tradisi. Karena, masyarakat tradisional mematuhi nilai-nilai atau pakem yang digariskan oleh tradisi dengan segala perangkatnya, mitos, seremoni tradisi. “NU dengan lebih dari 21 aneka tradisinya, memiliki daya resisten yang cukup terhadap gempuran kekuasaan. Contohnya, berkat tradisi, NU tidak dapat dikuasai oleh kekuasaan Orde Baru. Saya percaya NU juga sanggup mengatasi intervensi global yang membudaya,” kata Daniel Sparingga, salah satu pembicara

Nasionalisme Dalam Bingkai NU

sejarah nasionalisme dalam kajian NU, NU nasionalisme kabangsaan Sedikit sejarah yang mengaitkan peran NU dalam mengusung nasionalisme, nasionalisme dalam bingkai NU, nilai kebangsaan dalam NU. Andree Fiellard dalam tulisannya yang disampaikan dalam konfernsi Islam dan konstruksi atas sosial dan identitas, memberikan gambaran bahwa Nahdlatul Ulama’ bukan semata-mata organisasi para Ulama’yang hanya berkiprah dalam pusaran agama saja ia lahir diatas motifasi dan tantangan nyata dalam rangka mempertahankan kultur agama Islam ala Ahlussunnah Wal Jama’ah dari rongrongan faham lain yang datang mengancam dan menentang organisasi para penjajah Belanda. Sejarah mencatat keberadaan sejarah NU menjadi salah satu soko guru kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia. Apalagi ketika NU terlibat dalam bingkai politik kebangsaan dan lebih kongkrit lagi ketika NU dalam politik praktis tahun 1952.