Category Archives: Budaya

Agenda Ruwahan Sorobayan Bantul Diramaikan Dengan Wayang Kulit

wayang kulit tradisi indonesia, kegiatan merti desa wayang kulit Agenda Ruwahan merupakan tradisi masyarakat NU, termasuk di sini adalah apa yang dilakukan oleh masyarakat bantul khususnya desa sorobayan yang menggelar wayang kulit.  Untuk memeriahkan kegiatan merti dusun, warga Sorobayan Gadingsari Sanden Bantul mengadakan pentas wayang kulit semalam suntuk di salah satu rumah warga, Sabtu (14/7) malam. H Buchori AZ mengatakan, merti dusun ini sebagai rasa syukur masyarakat Sorobayan yang dilakukan setahun setahun sekali. “Ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada warga kami,” ujarnya saat ditemui KrJogja.Com di sela-sela pentas. Sebelum digelar pentas wayang kulit, dalam kegiatan merti dusun ini dilakukan dengan doa bersama dan kegiatan bersih desa. Merti dusun yang digelar tiap bulan Ruwah ini juga sebagai media dakwah menjelang Ramadan.

Membentengi Ekses Negatif Globalisasi; Tradisi NU

wacana tradisi NU, ekse globalisasi bagi tradisi, cegah efek negatif globalisasi dengan tradisi Membentengi Ekses Negatif Globalisasi bukanlah masalah mudah, hal ini terkait identitas bangsa, keragaman budaya, kepentingan politik, kepentingan ekonomi dan masih banyak lainnya.  Tradisi diyakini dapat menjadi benteng kokoh untuk melindungi pemeluknya dari kekuasaan hegemonik. Sekuat apapun, kekuasaan tidak sanggup menghegemoni pemeluk teguh tradisi. Karena, masyarakat tradisional mematuhi nilai-nilai atau pakem yang digariskan oleh tradisi dengan segala perangkatnya, mitos, seremoni tradisi. “NU dengan lebih dari 21 aneka tradisinya, memiliki daya resisten yang cukup terhadap gempuran kekuasaan. Contohnya, berkat tradisi, NU tidak dapat dikuasai oleh kekuasaan Orde Baru. Saya percaya NU juga sanggup mengatasi intervensi global yang membudaya,” kata Daniel Sparingga, salah satu pembicara

Naskah Kuno Pesantren, Warisan Peradaban NU Indonesia

naskah kuno islam indonesia, peninggalan peradaban islam indoensia, download naskah kuno pesantren Nasah Kuno Pesantren adalah peninggalan kebudayaan islam indonesia, warisan kebudayaan islam indoensia. kajian tentang naskah ini sebenarnya setiap saat selalu ada namun begitu hanya terbatas pada pelestarian yang digunakan pendidikan pada pesantren. Adakah hubungan naskah kuno, pesantren, dan Nahdlatul Ulama? Jika jawabannya ada, muncullah pertanyaan berikutnya: Bagaimana hubungan ketiganya itu? Apakah karena ketiganya itu sama-sama “terpinggirkan”? Atau termasuk dalam kategori “tradisional”, sehingga kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat? Pada kesempatan ini, penulis ingin mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara mengurai ketiganya dalam konteks “al-muhafadhatu ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.”

Tradisi Ruwahan;Spirit Keislaman Indonesia

makna tradisi ruwahan, tradisi Nu bulan sya'ban, kegiatan NU bulan sya'ban Pada bulan sya’ban ini, tema terkait makna bulan sya’ban, fadhilan bulan sya’ban, tradisi ruwahan, tradisi NU, tradisi ruwahan, kegiatan ruwahan menjadi hal yang menarik. bulan Syaban atau Ruwah (Jawa) sudah separuh perjalanan. masyarakat muslimJawa mulai menyiapkan diri, baik fisik maupun spiritual, untuk menyongsong Ramadan 1433 H, termasuk sebagian yang melaksanakan tradisi sosial keagamaan Ruwahan. Tradisi itu adalah tafsir cerdas orang Jawa pada masa lalu dalam menerjemahkan ajaran Islam dalam konteks realitas sosial. Pelaksanaan tradisi ini kadang dikelola oleh lembaga masyarakat, misalnya remaja pengurus masjid, NU, atau ormas. Tujuan utamanya adalah mendoakan arwah leluhur. Si empunya hajat mengundang warga sekitar, bahkan kadang pihak luar datang khusus untuk menghadiri kegiatan itu, yang adakalanya dihadiri sejumlah ulama dan tokoh masyarakat. Ada pula kegiatan yang diadakan oleh komunitas, yang juga terbuka untuk umum. Ruwahan berasal dari Ruwah,